Afrodite dan Penghakiman Paris: Sebuah Mitos tentang Pilihan yang Mengubah Dunia

Budi Santoso
Sejarawan & Penulis

Ada satu kisah dalam mitologi Yunani yang dimulai dengan pernikahan dan berakhir dengan kehancuran sebuah peradaban. Penghakiman Paris adalah titik awal dari Perang Troya, tetapi lebih dari itu, ia adalah sebuah mitos yang dengan kejeniusan tersendiri mengeksplorasi pertanyaan yang tidak pernah usang: apa yang kita pilih ketika kita tidak bisa memilih segalanya? Dan apa harga dari memilih yang paling kita inginkan daripada yang paling bijak?
Awal Mula: Pernikahan yang Memicu Petaka
Semua bermula dari pernikahan Peleus, pahlawan mortal, dengan Thetis, bidadari laut. Seluruh Olympos diundang, kecuali satu dewi: Eris, dewi perselisihan. Penghapusan Eris dari daftar tamu bisa dipahami, siapa yang mengundang dewi perselisihan ke pesta pernikahan? Namun konsekuensinya fatal. Eris datang tak diundang dan melempar ke tengah meja pesta sebuah apel emas dengan tulisan "untuk yang paling cantik" (kallistei).
Tiga dewi langsung mengklaim apel itu: Hera, ratu Olympos dan dewi pernikahan; Athena, dewi kebijaksanaan dan strategi perang; Afrodite, dewi cinta dan kecantikan. Zeus yang bijak menolak menjadi hakim di antara istri dan dua putrinya, dan memberikan tugas itu kepada Paris, pangeran muda Troya yang sedang menggembalakan ternak di Gunung Ida, jauh dari komplikasi politiknya.
Tiga Tawaran, Satu Pilihan
Hermes membawa ketiga dewi ke hadapan Paris. Masing-masing menawarkan suap. Hera menawarkan kekuasaan politik: menjadi penguasa terkuat di dunia manusia, raja atas raja-raja. Athena menawarkan kebijaksanaan dan kehebatan dalam perang: kemenangan dalam setiap pertempuran, kecemerlangan intelektual yang tak tertandingi. Afrodite menawarkan perempuan paling cantik di dunia sebagai istrinya: Helena dari Sparta.
Paris memilih Afrodite.
Keputusan ini, yang secara mitologis tampak impulsif dan didorong hasrat, sebenarnya mengandung lapisan makna yang lebih dalam. Paris bukan hanya seorang pria yang memilih perempuan cantik daripada kekuasaan atau kebijaksanaan. Ia adalah representasi dari prinsip yang orang Yunani sebut eros yang tidak terkendali, hasrat yang ketika menguasai pertimbangan rasional akan membawa kehancuran. Platon dalam Faidros akan mengembangkan tema ini panjang lebar: eros bisa menjadi kekuatan spiritual yang mendekatkan kita ke kebenaran, atau kekuatan destruktif yang menghancurkan segalanya. Paris memilih versi yang kedua.
Helena: Korban atau Pelaku?
Afrodite menepati janjinya. Paris berlayar ke Sparta, diterima dengan keramahan penuh oleh raja Menelaos, kemudian melarikan diri bersama Helena ke Troya, membawa serta harta Menelaos. Apakah Helena pergi dengan sukarela atau diculik? Tradisi Yunani tidak bulat dalam hal ini. Ilias Homer menggambarkan Helena yang menyesali kepergiannya, memandangi tembok Troya dengan melankolia yang mendalam. Stesichorus, penyair abad ke-6 SM, bahkan menulis versi di mana Helena tidak pernah ke Troya sama sekali, melainkan hanya "bayangannya" yang dibawa Paris, sementara Helena yang sebenarnya menunggu setia di Mesir.
Herodotos dalam Historiai (II.113-120) mendiskusikan ini secara serius: ia mengunjungi kuil di Mesir yang menurut pendeta-pendetanya adalah tempat Paris pernah singgah, dan orang Mesir meyakini versi di mana Paris tiba tanpa Helena. Herodotos sendiri percaya ini adalah versi yang lebih akurat, dan mendapati versi Homer sebagai cerita yang sengaja diindahkan. Ambiguitas ini bukan kelemahan mitos, justru kekuatannya: Helena yang berbeda-beda mencerminkan fakta bahwa dalam setiap perang besar, kebenaran tentang siapa yang bersalah selalu lebih rumit dari apa yang diceritakan oleh para pemenang.
Konsekuensi yang Tak Terbayangkan
Penolakan Paris terhadap tawaran Hera dan Athena berarti ia memilih musuh sekaligus mengorbankan kotanya. Hera dan Athena, tersinggung dan dipermalukan, berpihak pada pasukan Yunani dalam Perang Troya yang berlangsung sepuluh tahun. Kota Troya akhirnya jatuh bukan karena kalah dalam pertempuran terbuka, melainkan karena tipu daya kuda kayu. Priam, ayah Paris, tewas. Hekabe, ibunya, diperbudak. Seluruh peradaban Troya dihapus dari peta.
Dari satu apel emas dan satu pilihan seorang pemuda di Gunung Ida.
Relevansi Abadi
Mitos Penghakiman Paris tetap relevan bukan karena kita semua memilih perempuan cantik daripada kebijaksanaan, melainkan karena kita semua pernah menghadapi versi dari pilihan itu. Kita pernah memilih kepuasan segera daripada kebijaksanaan jangka panjang. Kita pernah mendahulukan apa yang kita inginkan daripada apa yang benar. Mitologi Yunani brilian dalam hal ini: ia tidak menyederhanakan manusia sebagai baik atau jahat, melainkan menunjukkan bahwa bahkan pilihan yang paling merusak pun berasal dari keinginan yang sangat manusiawi.
Yang membuat saya berpikir lama adalah ini: dari ketiga tawaran itu, kekuasaan, kebijaksanaan, dan cinta, yang paling berbahaya jika diraih melalui jalan yang salah adalah cinta. Bukan karena cinta itu jahat, melainkan karena cinta adalah satu-satunya dari ketiga hal itu yang tidak bisa dikompromikan atau disubstitusi. Kekuasaan bisa dibangun perlahan melalui jalan lain. Kebijaksanaan bisa dipelajari bertahap. Namun cinta yang sejati tidak bisa diperoleh dengan memenangkan kompetisi kecantikan atau dengan bujukan dewi. Paris mendapatkan Helena, tetapi tidak pernah mendapatkan apa yang sesungguhnya ia cari.
Sumber Utama: Homeros, Ilias III dan XXIV, diterjemahkan oleh Robert Fagles (Penguin Classics, 1990); Euripides, Troades, diterjemahkan oleh Edith Hall (Oxford World's Classics, 2009); Herodotos, Historiai II.113-120, diterjemahkan oleh Robin Waterfield (Oxford World's Classics, 1998).