Para Pahlawan

Achilles: Kemarahan, Kemuliaan, dan Pilihan yang Tak Bisa Ditarik Kembali

Budi Santoso

Budi Santoso

Sejarawan & Penulis

Achilles membalut luka Patroclus, vas Attik berlapis hitam sekitar 500 SM
Achilles membalut luka Patroclus, vas Attik berlapis hitam (sekitar 500 SM), Staatliche Museen zu Berlin. Via Wikimedia Commons (domain publik).

Ilias karya Homeros dimulai dengan satu kata: mēnin, "kemarahan". Ini bukan kebetulan. Dari semua tema yang bisa dipilih Homeros, ia memilih emosi, bukan tindakan; kemarahan, bukan kepahlawanan. Kemarahan Achilles kepada Agamemnon itulah yang menggerakkan seluruh mesin narasi Ilias, menyebabkan kematian Patroclus, mendorong Achilles kembali ke medan perang, dan berujung pada kematian Hector. Di tengah-tengahnya berdiri sosok yang paling bercahaya sekaligus paling terbakar dalam mitologi Yunani: Achilles.

Manusia Setengah Dewa yang Terperangkap

Achilles adalah putra Peleus, raja Thessaly, dan Thetis, nimfa laut yang abadi. Kelahirannya sendiri adalah konsekuensi dari keputusan kosmis: Zeus menghindari menikahi Thetis karena ramalan bahwa anaknya akan lebih kuat dari ayahnya. Thetis "dipaksa" menikah dengan manusia fana, yang berarti Achilles lahir dari pernikahan yang tidak bahagia, dari seorang ibu yang mencintainya dengan kecemasan intens karena ia tahu anaknya ditakdirkan mati muda.

Thetis mencoba membuat Achilles abadi, menurut beberapa versi dengan mencelupkannya ke Sungai Styx, menyisakan satu titik rentan di tumit tempat ia memegang sang bayi. Namun intinya selalu sama: usaha seorang ibu melindungi anaknya dari kematian yang sudah ditakdirkan, dan kegagalan parsial dari usaha tersebut. Achilles sangat kuat dan hampir tidak dapat dikalahkan, tetapi tetap fana, dan ia tahu itu.

Pilihan yang Mendefinisikan Segalanya

Momen paling menentukan dalam karakter Achilles bukan adegan pertempurannya, melainkan sebuah pilihan yang ia buat sebelum Ilias dimulai. Thetis memberitahunya tentang ramalan ganda: jika ia pergi ke Troya, ia akan memperoleh kemuliaan abadi (kleos aphthiton) tetapi akan mati muda; jika tetap tinggal di rumah, ia akan hidup lama tapi namanya akan terlupakan. Achilles memilih Troya, memilih kemuliaan atas kehidupan, memilih untuk dikenang atas sekadar ada.

Gregory Nagy dalam The Best of the Achaeans (1979) menganalisis bagaimana konsep kleos aphthiton, ketenaran abadi melalui puisi epik, adalah mekanisme di mana pahlawan seperti Achilles "hidup" setelah kematian: bukan sebagai roh di Hades, melainkan sebagai nama dan kisah yang terus diceritakan. Dalam pengertian ini, puisi itu sendiri adalah bentuk keabadian yang Achilles pilih.

Kemarahan dan Penghinaan

Konflik pemicu dalam Ilias adalah penghinaan publik: Agamemnon mengambil Briseis, tawanan dan kehormatan perang milik Achilles, secara paksa. Bagi Achilles, ini bukan sekadar kehilangan seorang perempuan; ini adalah penghancuran timē (kehormatan) di hadapan seluruh pasukan. Responsnya adalah menarik diri sepenuhnya dari pertempuran, sebuah keputusan yang sangat merugikan pasukan Yunani. Dalam logika heroik Yunani, tindakan ini konsisten: jika kehormatannya tidak diakui, untuk apa ia berjuang? Apakah nilai dari kemuliaan yang diraih untuk seseorang yang tidak menghargai sumbangan Anda?

Kematian Patroclus dan Kehancuran Total

Titik balik datang melalui kematian Patroclus, sahabat terdekat Achilles. Patroclus meminjam baju zirah Achilles untuk turun ke medan perang, berhasil mendorong mundur pasukan Troya, tetapi akhirnya dibunuh oleh Hector. Berita kematian Patroclus menghancurkan Achilles. Kesedihannya total dan fisik: ia roboh ke tanah, membuang tanah ke atas kepalanya, meraung dengan suara yang terdengar oleh Thetis di dasar laut. Homeros tidak menyensor: ini adalah duka yang murni dan meluap-luap. Dan dari duka itu lahirlah tekad tak tergoyahkan untuk membunuh Hector, meskipun Thetis memperingatkan bahwa kematian Hector berarti kematiannya sendiri akan segera menyusul.

Rekonsiliasi: Adegan Paling Manusiawi dalam Ilias

Namun Ilias tidak berakhir dengan kemenangan Achilles. Ia berakhir dengan Priam, raja Troya yang tua, datang diam-diam di malam hari ke tenda Achilles untuk meminta kembali jenazah anaknya, Hector. Priam berlutut di hadapan Achilles, mencium tangannya, tangan yang membunuh begitu banyak anaknya, dan memohon dengan mengingatkan Achilles kepada ayahnya yang tua, Peleus, yang juga akan kehilangan anaknya suatu hari nanti. Kedua laki-laki menangis bersama: satu atas Patroclus, satu atas Hector. Achilles mengembalikan jenazah Hector dan memberikan gencatan senjata dua belas hari. Dalam momen ini, Ilias melampaui narasi kemenangan dan kekalahan untuk sampai pada sesuatu yang lebih fundamental: pengakuan atas kemanusiaan bersama, bahkan di antara musuh, bahkan di tengah kehancuran.

Sumber Utama: Homeros, Ilias, diterjemahkan oleh Richmond Lattimore (University of Chicago Press, 1951); Gregory Nagy, The Best of the Achaeans (Johns Hopkins University Press, 1979); Jonathan Shay, Achilles in Vietnam: Combat Trauma and the Undoing of Character (Atheneum, 1994); Jasper Griffin, Homer on Life and Death (Oxford University Press, 1980).